JAKARTA | Bernasindo – Di bulan suci Ramadhan, umat islam di Indonesia menjalankan nya dengan penuh hikmah dan kesungguhan hati. Tidak saja masyarakat biasa, juga termasuk warga binaan yang sedang berada di Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas.
Lapas sebagai tempat pembinaan warga yang sedang berada di dalamnya, mempunyai peran yang sangat penting dalam pembinaan warganya agar bisa memperbaiki dan merefleksikan diri mereka masing-masing agar bisa kembali ke masyarakat bebas dengan hidup yang baik dan tidak melakukan hal yang negatif di kemudian harinya.
Hal ini lah yang disampaikan oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) II A Garut, Jawa Barat, Rusdedy A.Md.IP, SH, M.Si., ketika memberikan penjelasan kepada media, Jumat (13/03/2026).
“Tujuan utama pembinaan di Lapas selama bulan Ramadhan adalah memperkuat proses pembinaan kepribadian dan spiritual warga binaan. Bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran diri, memperbaiki perilaku, serta menumbuhkan nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, dan pengendalian diri, ” ungkapnya
Rusdedy menjelaskan bahwa Di Lapas Kelas IIA Garut memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai sarana pembinaan mental dan spiritual agar para warga binaan dapat melakukan refleksi diri, memperbaiki kesalahan masa lalu, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat.
“Peran Lapas dalam sistem pemasyarakatan pada bulan Ramadhan tetap berpedoman pada prinsip pembinaan, perlindungan, dan reintegrasi sosial. Selama bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri, Lapas tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga mengoptimalkan berbagai program pembinaan keagamaan, pembinaan kemandirian, serta menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di dalam Lapas, ” ujarnya.
Momentum Idul Fitri juga menjadi waktu penting bagi warga binaan karena banyak dari warga yang memperoleh hak-haknya seperti remisi khusus Hari Raya Idul Fitri, yang merupakan bagian dari sistem pembinaan dan penghargaan atas perilaku baik selama menjalani masa pidana.
Rusdedy menerangkan kegiatan di Lapas Kelas IIA Garut, selama bulan Ramadhan menyelenggarakan berbagai kegiatan, antara lain:
• Sholat Tarawih berjamaah setiap malam
• Kultum atau ceramah agama setelah sholat Tarawih
• Tadarus Al-Qur’an bersama warga binaan
• Pesantren kilat Ramadhan
• Kegiatan pembinaan kepribadian dan bimbingan rohani
• Program kebersihan lingkungan Lapas
• Kegiatan bakti sosial dan kepedulian kepada masyarakat
“Selain itu, pembinaan kemandirian seperti kegiatan pertanian, peternakan, dan pelatihan keterampilan tetap berjalan selama bulan Ramadhan, ” jelasnya.
“Pembinaan di Lapas pada dasarnya bertujuan agar warga binaan siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik. Kami memberikan pembinaan kepribadian, seperti pembinaan agama, kedisiplinan, serta pembinaan mental. Selain itu juga diberikan pembinaan kemandirian, seperti pelatihan kerja, kegiatan pertanian, peternakan, dan keterampilan lainnya agar mereka memiliki bekal ketika bebas nanti, ” ungkap Rusdedy.
Di Lapas Garut sendiri saat ini juga sedang dikembangkan berbagai kegiatan produktif, termasuk budidaya ayam broiler dan ayam petelur, yang menjadi sarana pembelajaran keterampilan sekaligus pembinaan kerja bagi warga binaan.
Ada pun tantangan yang dihadapi dalam menjalankan program tersebut, Rusdedy menjelaskan beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:
• Jumlah penghuni yang cukup banyak dibandingkan kapasitas.
• Keterbatasan sarana dan prasarana pembinaan.
• Pengaturan kegiatan ibadah dan aktivitas harian agar tetap tertib.
• Menjaga kondisi keamanan dan ketertiban selama aktivitas meningkat di bulan Ramadhan.
Namun demikian, dengan dukungan petugas serta kerja sama berbagai pihak, kegiatan pembinaan di Lapas Garut dapat tetap berjalan dengan baik.
“Keamanan merupakan prioritas utama dalam penyelenggaraan pemasyarakatan,” ujarnya.
Di Lapas II A Garut menerapkan sistem pengamanan berlapis, antara lain:
• Pengawasan petugas pengamanan secara bergantian 24 jam.
• Pemeriksaan dan kontrol rutin di blok hunian.
• Pengawasan barang masuk.
• Deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan.
“Kami juga mengedepankan pendekatan pembinaan yang humanis namun tetap tegas terhadap aturan, ” jelasnya.
Lapas dalam menangani setiap pelanggaran tata tertib di dalam Lapas akan ditangani sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penanganannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pembinaan, peringatan, hingga sanksi disiplin sesuai ketentuan. Tujuan utamanya bukan semata-mata menghukum, tetapi untuk mendidik agar warga binaan memahami dan menaati aturan selama menjalani masa pidana.
Juga Rusdedy menerangkan adanya kerjasama dengan pihak diluar lapas yang turut membantu pembinaan warga binaan Lapas.
Adapun kerjasama yang dijalin dengan berbagai pihak seperti:
• Pemerintah Daerah Kabupaten Garut.
• Aparat penegak hukum.
• Tokoh agama dan pesantren.
• Organisasi masyarakat dan LSM.
• Komunitas sosial.
” Kerja sama ini sangat membantu dalam penyelenggaraan pembinaan, terutama kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan, ” ungkap nya.
Beberapa program yang telah dilaksanakan bersama pihak luar antara lain:
• Kegiatan bakti sosial dan pembagian sembako kepada masyarakat.
• Pemeriksaan kesehatan gratis.
• Pembinaan keagamaan oleh tokoh agama.
• Program pembinaan keterampilan.
• Kerja sama dalam bidang pembinaan lingkungan dan sosial.
“Sebagai contoh, baru-baru ini Lapas Garut juga melaksanakan kegiatan bakti sosial bersama KKSS Kabupaten Garut dalam rangka menyambut bulan Ramadhan,” ujarnya.
“Harapan kami menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah agar momentum ini menjadi waktu untuk memperkuat nilai kebersamaan, introspeksi diri, dan semangat memperbaiki diri bagi seluruh warga binaan. Kami juga berharap masyarakat semakin memahami bahwa tujuan pemasyarakatan adalah membina dan mengembalikan warga binaan menjadi anggota masyarakat yang baik dan bertanggung jawab, ” jelasnya.
“Kepada seluruh warga binaan, saya berharap agar memanfaatkan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Kepada keluarga warga binaan, kami juga berharap tetap memberikan dukungan moral dan semangat kepada anggota keluarganya yang sedang menjalani pembinaan di Lapas,” ungkapnya.
“Kami di Lapas Garut berkomitmen untuk menjalankan pembinaan secara profesional, humanis, dan berorientasi pada pemulihan serta reintegrasi sosial, ” jelas Rusdedy menutup wawancara dengan media. (**).
